Rupiah Menguat Tipis, Pelaku Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Rupiah Menguat Tipis, Pelaku Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan hari ini. Ruangan penguatan rupiah masih tetap ada.

Rupiah Menguat Tipis, Pelaku Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Mengutip data KursDollar.co.id, Rabu (3/5/2017), rupiah di buka di angka 13. 300 per dolar AS, menguat bila dibanding dengan dengan penutupan perdagangan terlebih dulu yang ada di angka 13. 312 per dolar AS.

Mulai sejak pagi sampai siang hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran 13. 291 per dolar AS sampai 13. 307 per dolar AS. Bila dihitung dari pertama th., rupiah masih tetap menguat 1, 31 %.

Sedang berdasar pada Kurs Rujukan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Kurs Bank Indonesia (BI), rupiah dibanderol di angka 13. 297 per dolar AS, menguat bila dibanding dengan patokan terlebih dulu yang ada di angka 13. 316 per dolar AS.

Dolar AS memanglah bergerak stabil di Asia. Beberapa pelaku pasar tengah menanti pernyataan kebijakan dari Bank Sentral AS atau juga the Federal Reserve (the Fed).

Beberapa analis dan juga ekonom memprediksi, the fed bakal menjaga tingkat suku bunga referensi dalam pertemuan Federal Open Market Commitee (FOMC) pada minggu ini. Kenaikan suku bunga setelah itu diperkirakan dikerjakan pada Juni 2017.

Diluar itu, Dolar AS sedikit tertekan karna keadaan geopolitik. ” Kecemasan mengenai resiko geopolitik seperti Korea Utara sudah membebani dolar AS beberapa waktu terakhir, ” terang Analis Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Singapura, Satoshi Okagawa, seperti diambil dari Reuters.

Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta menerangkan, rupiah sukses menguat pada perdagangan Selasa berbarengan kurs lain di Asia. Dolar AS yang lemah lebih jadi penyebab di banding sentimen domestik tentang ketidakpastian pengumuman peringkat utang oleh S&P. ” Launching S&P di kisaran akhir April sampai awal Mei ini, ” terang dia.

Ruangan penguatan rupiah masih tetap ada lihat dolar AS yang selalu tertekan meskipun dengan cara fundamental, trend naik harga komoditas yang belum kembali, bakal membatasi ruangan animo.